TURUN DAN TERLIBAT LANGSUNG KE AKAR PERMASALAHAN, MAKA KAU AKAN MELIHAT DUNIA

Selasa, 24 September 2013

GENERASI HIJAU DIBAWAH PAYUNG BAMBU

Jurnal Taman Kata,
Mahasiswa Hijau Indonesia.


Tetesan air mengalir dari dedaunan bambu, bambu kecil berkata ketika rantingnya dihembus angin.

Wahai penguasa ditempat ini aku ingin mencari keramaian, Wahai dedaunan ku yang gugur aku ingin berlindung dalam kepungan mu.
Suara burung bermain diantara lebak yang ada disekitarku, panas menerjang pohon-pohon mati disekitar sawah yang tertingal.
Ada seorang pria berjalan menghampiri, sebagai seorang penduduk lokal dan pemilik lebak dan bambu yang ruasnya menunjuk arah matahari. Hewan-hewan ternak diikat dengan sehelai tali rerumputan yang terhimpit lumpur dikuasai Sapi coklat yang menarik seekor Burung putih disampingnya.
Ada gubuk tempat duduk dalam sebuah sawah yang tanahnya sudah mengeras dan hampir retak, tapi bambu hitam tetap berdiri tegak dengan tanah yang subur berduri diantara kegatalan.

Nyamuk dan hamparan rasa dingin mengentalkan kenangan yang terdalam, dan setelah semua merasa sempurna kita ucapkan selamat datang dan bergabung dengan kami Mahasiswa Hijau Indonesia untuk angkatan ke 6 (enam) pada recruitmen pelatihan MHI palembang di kecamatan gandus.

Berdiri tegak hamparan pohon bambu hijau memberi kesejukan pada malam hari yang erat dengan kekeluargaan yang terlewati saat tes mental dan ideologi.
Satu bambu kuning memberi keindahan suasana dalam potret mata, terasa enerjik saat sepi tiba akan membawa erotis semata berdiri diantara bambu hijau. Beralas tikar dan beratap langgit generasi hijau tidur dg kebersamaan dan ketika senja tiba rasa letih bosan menemani rasa ngantuk, kopi tiba dan dilanjutkan dengan menganalisa dunia betapa beruntungnya bayi kecil yang polos memandang dunia.

GENERASI HIJAU TETAP BERJALAN WALAU KEFUTURAN ITU FUTUR MENDEKATINYA. Ayo bangun jiwa muda yang kompeten (BY)

Bersatu, Bersarekat, Berlawan..
(Gandus, 2013)

Kamis, 01 Agustus 2013

SEJARAH DESA SERIGENI

SEJARAH SINGKAT DESA SERIGENI 
provinsi: sumatera selatan, kabupaten: ogan komering ilir, kecamatan: kayuagung

(BY) Sumber : Tomas Desa

Pada zaman dang-ai ni hidop-lah uwang bujang belagak, die tinggal dewek-an dengan negakkan bagan bambu tempat die tinggal dan tidok di tengah-tengah ume atau lebak. Gawe-nye se-ai-ai bekarang dan nyakau ikan, selaen untuk laok makan, die juge ngaweke-nye dengan buat ikan jadi tahan lame yang dijadike-nye balor dan salai.

Karene gawe die galak buat ikan salai atau buat perapian/pondokan uwang duson jolok’i bujang ini dengan name “GENI” yang arti-nye api.

Suatu ketika die nak pegi ngenjok kerie atau kepala dusun ikan bulean-nye saat bekarang. Ditengah jalan berperapakan dengan uwang gades yang rajen, cinde dan elok serta rupa sang gadis ini berseri-seri saat dipandang. Kerne itu gades ini dipantou uwang duson dengan name “SRI” selain rupa sang gades yang berseri-seri gades ini juge galak ngerewangi uwang tue-nye ngerencam dan be-ume.

Alkisah usut punye usut sang gades ternyate anak kerie setempat, dengan bepatok-an pepatah uwang duson ‘sambel negok aek’ sambi bawe ikan hasil die bekarang maka si bujang ngomongke kendak atinye dengan kerie bahwe nak ngerasani gades yang bername Sri yang bertempat tinggal didoson itu.

Nyelek gelagat dan gawean bujang (Geni) ini kerie menyetujui dan mengizinke bujang (Geni) kawen dengan gades (Sri) yang tak laen anak die dewek. Sejak bujang (Geni) dan gades (Sri) kawen dan hidop berumah tangge mereka berduwe hidop dengan rokon, damai dan bahagie di duson sebelah ilew, tepat-nye di tengah-tengah duson dengan mate pancarian bekarang dan be-ume. Selain itu juge tempat dimane bujang (Geni) dan gades (Sri) ini tinggal diname-ke uwang duson “sri begani” yang arti-nye tempat tinggal SRI dan GENI. Ketika kehidupan terus berlangsung dan uwang tinggal makin banyak disekitar si-bujang dan si-gades ini maka pada zaman itu tempat “SRI BEGANI” dirubah menjadi “SERIGENI” dan sekarang nama Serigeni masih melekat dan tetap menjadi nama sebuah tempat atau desa Serigeni yang kebetulan seiring maju-ny zaman saat ini desa Serigeni berada di Kecamatan “KAYU AGUNG” Kabupaten Ogan Kombering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL) Negara Indonesia bagian Asia.


Pada saat undang-undang marga yaitu pemerintahan marga, warga Serigeni merupakan garis keturunan Marga Teloko, dan yang mengatur pemerintahan marga disebut Pesirah.
Marga Teloko Saat ini Meliputi 7 Desa Yaitu : 
(Arisan Buntal, Tanjung Lubuk, Serigeni Lama, Serigeni Baru, Tanjung Serang, Teloko dan Tanjung Menang) Susunan Pemimpin Marga dan Desa
1.Depati Hadji Dendam.
2.Pangeran Mahadam.

3.Pasirah Deris.
4.Depati Said.
5.Pasirah Sukri.
6.Pasirah Hanafiah.

7.Damiri Mahadam.
8.Samaru.

9.A.Kong.
10.Mujahit.
11.Taufik.
12. Abdulah Kadir.



TINTA SUBUH (Adat Pemuda SP. Padang)


serigeni lama ,25-juli-2013

     Ramadhan subuh diluar luar rumah. Kali ini orang-orang menuju satu titik dimana sejak abad ke 1.000-an Masyarakat sekitar Sumatera yang berada di-pingiran mereka merayakan ramadhan bersama temen dan saudara se-tempat menghibur puasa dengan menjalan-kan aktifitas santai bareng diluar rumah se-usai santap sahur” dengan jalan kaki, bersepeda dan berkendaraan.


#CelotehSubuh “TINTA SUBUH”

Menjaga mata agar tetap terjaga di sepertiga malam terkahir
Beku kabut sendu kokok PEJANTAN menggaung menendang senja
Berjalan menghibur menuju keramaian
Muda-mudi berkumpul bersama bunga-bunga api
Bersimpuh ketika fajar menggelar subuh, ... tumpukan puing petasan dipinggiran KULTUR Sajak lelaki yang terluka disaat petasan menjadi bahaya
Asmara subuh yang biasa dihabiskan untuk mendekatkan kaum Adam dan Hawa Di-hulu subuh disertai angin bergemuruh bersama ledakan
Menerbangkan suara yang tersangkut akrab bergembira


     Kali ini kaum muda sekitar Ogan Kombering Ilir (OKI) sekitar jalan Kayu Agung menuju Sp-Padang kelompok meranjak dewasa melakukan aktifitas joging bareng dengan bergembira-ria kalangan muda bermain petasan dan menuju ke satu titik, dimana kebiasaan ini menjadi trend dari dahulu ketika saya terlahir di-muka bumi ini sampai sekarang aktifitas unik itu tetap ada dengan bermacam tipe aktifitas.

Dimulai ketika subuh tiba
1. ada yang melaksanakan sholat subuh
2. ada yang melamun diatas pos duduk depan rumah
3. ada yang menikmati keringat dengan berlari disepanjang jalan 4. ada yang asyik memamerkan kepunyaan-nya seperti baju-baru, hp-baru, sepeda-baru
5. Ada yang bersiap untuk mencari napkah seperti bertani, berkebun dan bekerja
Unik ny ketika kalanggan penerus banggsa ini ketika hari libur malah menjadi momentum untuk bergembira bersama-sama dengan bermain petasan ledak dan kembang api bersama sahabat, pacar atau mungkin PD-kate mereka membawa modal dengan api korek yang berharga karna gak ada api-maka gak akan meledak thu petasan.

     Hari itu berjalan mendung dangan cuaca sejuk diantara pepohonan diantara nuansa desa yang berbaris di sepanjang Sungai Ogan anak diatas 7.th ke-atas meraja’i jalanan di-pinggiran sungai dengan konpoi mereka berjalan menjauhi rumah masing-masing sebelum senja mulai terik mereka memamfaat-kan kesejukan alami ini dengan menghirup kesegaran cuaca subuh. Bersama api mereka berteriak “doooor dan waaaaa” menyelimuti suara angin. Di-saat bersamaan aktivitas sesaat sedikit terhambat dengan sebuah senyuman dan terlahir diwajah penghambat jalan dan juga pengguna jalan yang ingin melintas mereka terlihat akrab tampa teriakan marah atau mungkin marah si-pengguna jalan ada di-dalan hati-nya sehingha tidak terdengan ditelinga. Tapi itu mustahir karna senyuman terlahir di raut wajah setiap orang yang ada disekitar, saat itu bunga-bunga api bertaburan diantara tepian sungai sepanjang jalan utama Kayuagung Sp-Padang menuju Palembang. (BY)

Rabu, 03 Juli 2013

Palembang SUMSEL


Ketika semua orang berlomba menjadi yang terbaik.
Disisi lain ribuan semut mencari makan dijalanan dan dihutan
Ketika budaya hampir punah dengan tren moderendlisasi yang disenangi kaum generasi
Orang-orang megejar mencari makna diantara nama-nama yang lahir
 

Senin, 17 Juni 2013

PUISI (PELANGI DIMATAMU)


Dingin ny malam bersama angin bertiup menghampiri
Mendengar lantunan lagu yang dinyayikan
Memandang sungai bagaikan keindahan dunia mendekat
Berdua kita rasakan musik-musik jalanan kian menghampiri
Bersama pedangan mie tek-tek suasana berubah sejuk

Langit mendung bintang-bintang tersenyum melihat mu
Aliran sungai memandang ombak yang datang ketika perahu ketek melintas
Bersamamu Pelangi itu indah dimata mu
Bersama roda besi hujan turun membasahi jiwa
Hari esok kau dan aku terus bersama melewati kesunyian
Hari ini ku tetap menulis nama mu disisi ku

(BY) Palembang, 15-juni-2013