Hampir seluruh warga Kota Palembang resah dengan bencana ekologi berupa banjir yang tersebar hampir di seluruh wilayah kota. Tidak hanya mengganggu kenyamanan, banjir juga telah merugikan banyak hal di masyarakat. Kerugian secara ekonomi akibat perabotan rumah tangga yang rusak, anak sekolah harus diliburkan, terhambatnya arus lalu lintas di jalan, dan berbagai kerugian lainnya harus ditanggung masyarakat.
“Dalam berbagai bencana ekologi yang ada, termasuk banjir, sudah jelas masyarakat yang menanggung akibatnya. Sementara penyebab sesungguhnya adalah kebijakan atau perizinan-perizinan yang merusak kelangsungan hidup, tidaklah pernah disentuh,”
Di Kota Palembang sendiri, minimnya ruang tata hijau (RTH), alih fungsi rawa secara massif, tidak efektifnya keberadaan drainase termasuk kolam retensi dan sampah menjadi pemicu banjir permanen, jika tidak segera diatasi. Belum lagi berbagai kegiatan usaha seperti hotel, mal, rumah sakit, perkantoran, perumahan dan lainnya dipastikan hampir seluruhnya tidak memperhatikan lingkungan hidup.
“Salah satu kasus alih fungsi rawa di Kota Palembang untuk pembangunan ruko adalah yang terjadi di lingkungan warga Lorong Pabrik Gelas, Kalidoni. Akibat yang ditimbulkan sudah jelas banjir yang selalu dialami masyarakat di sana,” Karena itu lanjutnya, melalui unjukrasa tersebut pihaknya mendesak Pemkot Palembang agar segera mencari solusi untuk mengantisipasi banjir di kota ini dengan memperhatikan aspek-aspek lingkungan di perkotaan. Seperti, perluasan RTH, konversi rawa yang tersisa, memperbaiki sistem drainase, membangun pengelolaan sampah berbasis komunitas, serta dengan tegas menindak atau mencabut izin usaha yang tidak memperhatikan lingkungan.
BANJIR di palembang menjadi sebuah kerajaan yang ditakuti masyarakat luas apa arti dari ADIPURA yang ada dikota ini kalau banjir menyebabkan 63% melumpuhkan aktivitas.... lambat ny tindak lanjut dan kurang ny RTH (Ruang Terbuka Hijau) menjadi meluasny kerajaan banjir ini penyebab demi penyebeb ada dimana-mana APAKAH itu hadiah kita dari PEMERINTAHAN sebagai korban banjir_ INGAT ? ? ? BANJIR BUKAN DATANG DARI TUHAN ATAU SIAPA-SIAPA tapi banjir datang dari ulah manusia itu sendiri : pertambangan yang dikeruk sebanyak-banyakny, sampah yang menumpuk dimana-mana, bumi yang di tancapkan oleh paku gedung yang ilegal, proses kepentingan pribadi menjadi alat kekuasaan// (BY) BUMI INI BUKAN BANK SAMPAH...